Profil Bupati dan Wakil Bupati




Biografi DR.H.Al Haris, S.Sos, MH dan H.Mashuri, S.Pd, MM
 
Nama Kecil : ABDUL HARIS
Nama : AL HARIS, S.SOS, MHUM
Orang Tua : SARKAWI (Ayah) - Hj. ZURIAH (Ibu)

Saudara
1. M. Fuadi
2. Roni Paslah
3. Nurul Hayati
4. Al Hanim As Sadiqi

Istri : HESNIDAR

Anak
1. Esy Risdianti
2. Muhammad Rifaldi
3. Nabilah HaniArifah

Alamat
- Desa Sekancing Kec. Tiang Pumpung Kab. Merangin
- Lrg. Hj. Ibrahim Gang Masjid RT. 21 No. 10 Kel. Rawasawi Kec. Kota Baru Kota Jambi 
 
AL HARIS ialah sosok dengan hidup yang penuh perjuangan. Siapa sangka dulu beliau pernah menjual koran (Loper), penjual martabak, tukang ganti oli, bahkan operator di RRI. Sejak merantau ke Bangko dari tanah kelahirannya di Desa Sekancing Kecamatan Tiang Pumpung Kabupaten Merangin, Haris -sapaan akrabnya-, memulai setapak demi setapak kehidupannya dengan penuh keringat, tangisan dan harapan. Sosok yang sangat menginspirasi.

Lulus SD tahun 1985, pria kelahiran Sekancing 23 November 1973 ini berniat menyambung sekolah di SMP Negeri, tekadnya baja, semangatnya membara. Meski ekonomi orang tuanya yang hanya petani kurang mampu menopang semangatnya bersekolah. Haris tetap semangat. Putra tertua dari pasangan Zarkawi dan Hj. Zuriah ini mendaftar ke sekolah swasta setempat, SMP PGRI Sekancing yang berjarak sekitar 2 KM dari rumahnya. Kepala Sekolahnya sewaktu itu adalah Harun. Al Haris menghabiskan waktu sekolahnya dengan sangat padat. Pagi ikut membantu ayahnya motong karet di kebun, jam 13.00 baru bersekolah. Selama tiga tahun aktivitas ini dilakukannya tanpa lelah. beliau tahu, suatu saat kerja kerasnya akan membuahkan hasil. Impiannya untuk menjadi seseorang yang berguna terus melekat dijiwanya.

Beliau lulus SMP tahun 1988, tahun berikutnya SMP PGRI Sekancing pun harus tutup. Haris berniat melanjutkan study ke SMA Negeri. Lagi-lagi semangatnya terhalang biaya. SMA Negeri waktu itu hanya ada di Kota Bangko. Jaraknya sangat jauh dari Sekancing. Beruntung ayahnya mendukung, maka untuk mendukung sekolahnya, ayahnya menjual sebidang tanah untuk biaya pendaftaran dan membeli baju serta alat tulis. Berbekal uang seadanya. Haris berangkat ke Kota Bangko. Lulusan SMP itu sempat tercenung, ketika tahu bahwa SMA Negeri sudah tutup pendaftaran, beliau terpaksa mendaftar ke SMA Swasta, SMA DB Bangko. Lokasinya di salah satu SD dekat kawasan Jam Gento.

Selama SMA, kehidupan sulung dari lima bersaudara ini semakin memprihatinkan. beliau terpaksa bekerja diluar jam pelajaran sekolah, untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari selama tinggal di Bangko. Jadilah profesi pertamanya sebagai karyawan disalah satu toko Kelontong Pasar Bawah, milik ibunda Kanceng (salah seorang Kabid di Dinas PU Merangin). Selama bekerja, beliau digaji dengan beras. Haris memutuskan berhenti, beliau butuh uang untuk membayar SPP. Makanya usai itu beliau melamar di Toko Buku Singgalang Bangko sebagai penjual koran (loper). Nah, dari sinilah beliau mulai mengenal dunia media hingga akhirnya suatu saat beliau dikenal oleh awak media massa di Jambi.

Sebagai loper koran, Haris diwajibkan mengambil koran dan majalah di pagi hari sekitar pukul 05.30. Saat itu beliau menjual koran Singgalang, Sriwijaya Post, Sentana, Sinar Pagi, Kompas dan beberapa majalah lain. Karena malu kepergok orang kampung yang melihatnya menjual koran. Haris mengenakan topi yang mirip dengan serdadu Jepang (tertutup dibagian samping dan belakang kepala) dibulan pertama menjual koran. Setelah mengambil koran, pertama-tama beliau berjualan di kawasan Pasar Bawah, dari toko-toko emas sampai toko-toko pakaian. Dengan berjalan kaki mengitari Pasar Bawah, Haris menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, usai itu beliau berjalan kaki ke terminal bus di dekat Pasar Baru, disana beliau kembali keluar masuk toko menawarkan koran yang dibawanya. Setelah terjual beberapa eksemplar.

Haris berjalan lagi menuju komplek perkantoran Bupati, SPBU, lalu ke perkantoran di Pematang Kandis. Hari mulai tinggi, keringat Haris bercucuran, rasa lapar mengerogoti perutnya. Karena berjualan koran hanya dapat keuntungan sedikit (kira-kira Rp. 50 sampai Rp. 100 per eksemplar). Haris hanya mampu membeli nasi putih. Lauknya berupa kuah gulai tanpa isi yang dimintanya dari rumah makan. Kondisi ini terus dialaminya selama berjualan koran. Sisa uang yang didapat disimpan untuk membantu orang tuanya di kampung.

Sekitar pukul 12.30, Haris kembali ke rumah, waktu itu beliau tinggal di rumah penjaga TK Pertiwi, lokasinya tak berapa jauh dari SMA DB Bangko. Pukul 13.00 Haris mulai bersekolah layaknya anak lain. Saat dikelas tiga. Haris berhenti jadi penjual koran. Beliau mulai fokus menjadi tukang ganti oli mobil di Toko Bram Motor. Selama bekerja, beliau makan dan tinggal di toko itu, tak beberapa lama, beliau pindah lagi ke Toko Edi Sarang Motor sampai akhirnya menyelesaikan ujian Ebtanas di tahun 1991. Begitu mengantongi ijazah SMA, pemuda gigih ini nekat merantau ke Kota Jambi demi mencari pekerjaan. PT. Tanjung Johor Wood Industry (PT. TJWI atau PT. Sabak Indah), adalah perusahaan pertama yang diliriknya. Setelah memasukkan lamaran, menunggu beberapa saat, ternyata beliau diterima. Tapi sayang, ketika mau mulai bekerja di Sabak, orang tuanya dikampung sakit, mendengar kabar itu Haris bergegas pulang ke Sekancing Bangko, pekerjaan di PT. TJWI akhirnya dibatalkan.

Sekembalinya dari kampung, Haris kembali merantau ke Kuala Tungkal, disana beliau melamar di pabrik ubur-ubur. Tapi karena dinilainya tidak ada prospek, sebulan kemudian beliau berangkat lagi ke Kota Jambi, di Kota Jambi inilah beliau memulai karis PNS. Setibanya di Kota Jambi, Haris mendengar kabar penerimaan pegawai di RRI Jambi, secepat kilat beliau memasukkan bahan, sewaktu itu yang diterima hanya lulusan SMP. Jadilah pemuda lulusan SMA itu melamar dengan ijazah SMP, dan ternya beliau diterima. Tapi SK baru turun 1 tahun kemudian, sambil menunggu SK turun, Haris berangkat lagi ke kota Bangko.

Tiba di Bangko, Haris sempat bingung mau bagaimana untuk bertahan hidup, uang sedikit, pekerjaan belum punya, tempat tinggal juga tidak punya. Dalam hati beliau mulai berfikir untuk bekerja, menjelang SK yang akan turun. Tapi, lagi-lagi pemuda banyak akal ini punya solusi. Dengan nekat dan mengabaikan rasa gengsi. Haris bergabung dengan penjual martabak di Pasar Bawah, beruntung Anik dan Halim, dua pedagang martabak asal Padang (Sumatera Barat), menerimanya dengan tangan terbuka, keduanya bahkan mempersilahkan Haris tinggal bersama mereka.

Anik dan Halim dengan sabar mengajarinya meracik bumbu, mengaduk tepung, menggoreng, sampaikan menyajikan martabak yang siap santap. Haris dengan semangat melakukan itu semua dengan pemikiran sederhana “Kalau Sampai SK PNS di RRI tidak keluar, setidaknya aku bisa melanjutkan hidup dengan berjualan martabak”. Haris membuang impian muluk-muluk. beliau sadar, sejak dari kecil sampai sekarang kesederhanaan telah menjadi teman akrabnya. Kesederhanaan ini pulalah yang kelak akan dibawanya sampai beliau menjadi sosok disegani di Pemerintah Provinsi Jambi.

Tiga bulan berdagang martabak di Pasar Bawah, mereka bertiga pindah ke Pasar Baru, saat itulah Maret 1992, SK di RRI Jambi keluar. Beliau dinyatakan diterima dan diangkat sebagai PNS Golongan I/b sebagai staf teknis dengan job operator studio. Gaji pertama yang diterimanya hanya Rp. 36.000. cukuplah untuk bertahan hidup.

Haris ditempatkan di pemancar RRI Mendalo, selama bertugas, beliau tinggal di rumah orang tua angkat, Basir Manan, sepupu H. Samsudin Uban, mantan Bupati Sarko tahun 1970-an, tiga bulan di Mendalo, beliau dipindah tugaskan ke RRI Telanaipura sebagai operator studio, sehari-hari, beliau bertugas mengatur jadwal acara, musik dan kapan penyiar harus bicara saat tayang. Haris mengontrak bedeng dibelakang RRI Telanaipura.

Suatu pagi, ketika berjalan di depan RRI, Haris berpapasan dengan Kepala Stasiun (Kepsta) baru pindahan dari RRI Bogor. Disinilah beliau merasakan betapa keberuntungan sangat dekat dengan dirinya yang sederhana. Kepsta itu bertanya kepadanya tentang tempat tinggal, setelah dijawabnya, Kepsta itu menawarkan agar Haris menemaninya tinggal di rumah dinas sampai istrinya yang di Bogor pindah ke Jambi. Hari-hari Haris dirumah dinas Kepsta diisi dengan tugas memasak nasi, membeli lauk, memasak air panas untuk mandi, menyeterika baju dan menemani Kepsta berangkat ke kantor, ini terus dilakoninya hingga istri Kepsta tiba di Jambi. Rencananya Haris hanya sementara tinggal disana, tak tahunya, setelah istri Kepsta tiba, beliau tetap tinggal disana sampai akhirnya lulus ASM Jambi.

Ketika tahun 1993, Haris yang lulusan SMA DB Bangko itu melanjutkan study di ASM Jambi, jarak antara kantor (Telanaipura) dan Kampus Simpang Kawat yang lumayan jauh, ditambah uang dikantong yang tipis memaksa Haris kembali berjalan kaki dari kantor-kampus, dan kampus-kantor. Sore hari ketika pukul 15.00. Haris mulai berjalan dari kantornya melalui rute yang sama. PLN-Adhyaksa-Lorong Saudara-Kantor Kelurahan Selamat-ASM Jambi, sepanjang perjalanan, Haris tak pernah membayangkan bahwa suatu saat nanti, beliau akan menjadi Lurah di Kantor Kelurahan Selamat yang setiap hari dilaluinya itu.

Tiba di ASM, perkuliahan dimulai pukul 16.00. sekitar pukul 21.00 perkuliahan berakhir. Haris kembali ke rumahnya di Telanaipura untuk beristirahat dengan keletihan yang mendera di kaki (bayangkan berjalan bolak-balik kantor-ASM, ASM-kantor), dan pikirannya (karena harus memikirkan tugas dan materi kuliah). Dua tahun sebelum lulus, Haris menyunting putri dari Gunung Masurai, gadis desa Muara Madras, Hesnidar (Hesti). Gadis yang telah meruntuhkan hatinya ini dikenalnya dalam suatu acara di Museum Jambi sekitar tahun 1993. Saat itu Hesti adalah Ajudan istri Bupati Merangin Zainul Imron. Sejak pertemuan pertama itulah, Haris bertekad menjadikan Hesti sebagai pendamping hidupnya.

Lagi-lagi Haris harus berjuang, jika dulu berjuang untuk bertahan hidup, kini ia berjuangan demi meraih cintanya, dua tahun sejak pertemuan pertama, tepatnya pada 5 Agustus 1995, beliau akhirnya berhasil mempersunting Hesti, beliau tidak pernah menyangka bahwa tanggal pernikahannya itu juga sebagai tanggal ulang tahun Kabupaten Merangin, kebetulan yang manis.

Setelah lulus ASM tahun 1998, Haris menghadap Hasan Basri Agus (HBA) yang sewaktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Kepegawaian Setda Provinsi Jambi, dan sejak saat itu Haris selalu dekat dengan HBA, HBA sudah dianggap sebagai orang tua, sahabat dan guru baginya, kemana-mana beliau selalu diajak, hampir setiap saat HBA membagi pengalaman dan pelajaran berharga tentang birokrasi pemerintahan kepada Haris. Sosok HBA sangat melekat bagi Haris sejak awal pertemuan sampai sekarang sebagai Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jambi.

Tahun 1999, Haris mengajukan pindah ke Pemprov Jambi sebagai penatar P4 bagi Pejabat Eselon III di Pemprov. Karena sewaktu kuliah di ASM beliau pernah ikut pelatihan P4 tingkat nasional pola 144 jam, dan mendapat SK BP7 Pusat, Haris yang masih golongan II berhak memberikan penataran kepada pegawai Eselon III se-Provinsi Jambi, bermodal SK itulah Haris mengajukan pindah dari RRI ke BP7.

Tapi sayang, tak beberapa lama kemudian BP7 bubar, Haris terkatung-katung ditempatkan di Biro Kepegawaian Setda Provinsi Jambi, disini, beliau sempat disiapkan menjadi Ajudan Wakil Gubernur Jambi Uteng Suryadiatna, tapi tak jadi karena beliau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Berbekal ijazah Sarjana Muda, Haris mengajukan diri tugas belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara Bandung (STIA-LAN Bandung), waktu berlalu demikian cepat, tahun 2001, beliau lulus di STIA-LAN Bandung dan kembali ke Jambi dengan tugas sebagai Sekretaris Lurah Selamat Pemkot Jambi. Nah, saat inilah Haris bernostalgia sambil melihat ke arah jalan depan Kantor Lurah Selamat, masih melekat di ingatannya bagaimana letihnya beliau tiap hari berjalan kaki bolak-balik dari kantor-kampus melalui jalan itu.

Tahun 2004, Al Haris diangkat menjadi Lurah Selamat, tak beberapa lama kemudian beliau meraih penghargaan sebagai salah satu Lurah Teladan yang mewakili Kota Jambi, prestasi yang tak pernah dilupakannya sepanjang karirnya sebagai PNS, beliau menjabat sebagai lurah hingga tahun 2006. Di tahun 2006, Haris hijrah ke Sarolangun sebagai Kasubbag Rumah Tangga Pemkab Sarolangun, dua tahun menjabat, Haris dipindahkan lagi sebagai Kepala Bidang Penanaman Modal pada Bappeda Sarolangun, tahun 2008 beliau pindah tugas lagi sebagai Sekretaris Dukcapil Pemkab Sarolangun.

Setahun kemudian, 2010 beliau ditempatkan sebagai Kabag Rumah Tangga di Biro Umum Setda Provinsi Jambi, lalu di 2011, Haris dipercaya sebagai Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jambi.

Pada tahun 2013 ia terpilih menjadi Bupati Merangin berpasangan dengan Abdul Khafidh dan kembali terpilih pada tahun 2018 berpasangan dengan Mashuri.

RINGKASAN KARIR:

Al Haris mengawali kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1992 di Angkasana RRI Jambi, dengan pangkat I.b. Pada 1999 Al Haris mutasi status PNS-nya ke Pemerintah Provinsi Jambi dan pada tahun itu juga Al Haris tugas belajar di STIA-LAN Bandung, Jawa Barat jenjang pendidikan S1. Beliau berhasil menyelesaikan kuliahnya pada 2000. Pada  2001 Al Haris mutasi dinasnya ke Pemerintah Kota Jambi, menduduki jabatan pertamanya menjadi Sekretaris Lurah Selamat Kecamatan Kota Baru Pemkot Jambi. Karier putra Sekancing Kecamatan Tiangpumpung Merangin  ini kemudian pada 2003 naik menjadi Lurah Selamat. Memasuki 2006 Al Haris mutasi dinasnya ke Pemkab Sarolangun. Berkat kecerdasannya dalam memimpin sekaligus menjadi lurah teladan tingkat Kota Jambi dan Lurah Favorit, suami Hj Hesnidar, SE ini langsung menduduki jabatan Kepala Subbagian Rumah Tangga Sekretariat Daerah Kabupaten Sarolangun. Karier ayah tiga anak ini terus melejit, pada 2007 beliau dilantik menjadi Kepala Bidang Penanaman Modal BAPPEDA Kabupaten Sarolangun. Tidak hanya itu pada 2009 Al Haris kembali dilantik menjadi Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sarolangun. Selanjutnya pada 2010 Al Haris kembali mutasi status PNS-nya ke Pemprov Jambi, langsung menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian Rumah Tangga Biro Umum Setda Provinsi Jambi. Setahun menjadi Kepala Bagian Rumah Tangga Biro Umum, tangga karier ayah Esi Risdianti, S.Ket ini terus melonjak, menjadi Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jambi. Pada 2013 Al Haris merasa terpanggil untuk membangun Kabupaten Merangin dengan mengikuti Pilkada Merangin 2013 berpasangan dengan Abdul Khafidh. Alhamdulillah berhasil terpilih menjadi Bupati Merangin periode 2013-2018. Diperiode berikutnya bupati yang dikenal paling jago meloby dana pusat ini, kembali terpilih memimpin Bumi Tali Undang Tambang Teliti berpasangan dengan Mashuri periode 2018-2023


Bagikan ke Jejaring Sosial